Rekam Skena Thumbnail (1)

Merekam Sejarah Bangsa yang Tak Mungkin Ditulis Negara

oleh Kiki Pea *

Sejak 2021, iKonser Channel menginisiasi ajang pencarian bakat-bakat baru di dunia musik, dimulai dari Kalimantan, Jawa Barat, hingga Jabodetabek. Di awal 2022, untuk Wilayah Jateng dan DIY, kami rasa akan lebih menantang jika aktivasi ini tidak sekadar mencari musisi yang akan tampil di festival besar seperti, Prambanan Jazz, JogjaRockarta, termasuk CHERRYPOP ini.

Karena itu di wilayah ini aktivasi tersebut bertajuk “Ruang Tanpa Batas: Ajang Pencarian Musisi Baru dan Arsiparis Musik dari Jateng dan DIY. Rekam Skena adalah nama yang paling tepat sebagai aksi untuk para pegiat musik dan audio visual yang memiliki minat pada dokumenter musik di kota/skenanya sendiri.

Jika sebuah dokumenter tentang skena musik yang dibuat oleh stasiun televisi, atau pembuat film profesional, hasilnya tentu akan berbeda jika digarap oleh pelaku skena itu sendiri. Karenanya ini juga menjadi usaha merekam sejarah bangsa yang nyaris tidak mungkin ditulis oleh negara.

Setelah mengurasi beragam deck yang masuk, saya dan para fasilitator; Alvin Yunatha dan Anggun Priambodo memilih lima konsep untuk diproduksi film dokumenter;

1. “Rockin Spades Rockabilly Club”
oleh Mahadhana Dira Priyahita & Valentinus Nagata

2. “Dibalik Lantai Dansa”
oleh Tuttifruti Collective

3. “Oi! Ini Skinhead Jogja”
oleh Galih Eko Kurniawan

4: “Tuhan, Masukan Aku Dalam Skena” oleh 7Days Off

5. “Knock knock! Yer Blues Here.”
oleh Spasi Latar – Krisna (Sutradara)

Selama proses produksi, para partisipan mendapatkan pendampingan dari fasilitator hingga karya tersebut layak diputar di CHERRYPOP 2022 ini. Awalnya, karena mengikuti skema ‘Musik Tanpa Batas’, aktivasi ini hanya berlangsung selama satu bulan. Kami sempat berpikir ini merupakan hal yang tidak masuk akal.

Bayangkan, di satu minggu pertama baru menggodog ide sampai mateng, minggu kedua menyusun jadwal, kemudian produksi 2-3 hari, dan menyunting gambar selama beberapa hari sisanya. Sungguh tidak ideal, mengingat total biaya produksi yang juga terbilang minim.

Sempat tidak terbayang bagaimana kemampuan partisipan mengerjakan idenya, dalam waktu sesingkat itu, mengingat sebagian besar mereka tidak berprofesi sebagai pembuat film, bahkan baru kali ini belajar membuat filmnya sendiri.

Namun setelah melihat hasilnya, kami rasa Rekam Skena harus berjalan dan dihelat di kota-kota lainnya. Siapa yang akan mencatat misalnya; pergerakan hip hop di Ambon, skena Reggae di Papua, eksistensi punkers di Daerah Istimewa Aceh, estetika Black Metal di wilayah Pantura, dan skena musik lainnya se-Indonesia Raya.

Lewat usaha kecil-kecilan ini diharapkan Rekam Skena bisa jadi medium pengiat musik yang memiliki minat pada pendokumentasian musik, dan ikut berkontribusi pada aktivasi pengarsipan pergerakan musik Indonesia yang masih minim. (*)

*(program director Rekam Skena)

Scroll to Top