THE ADAMS_ CHERRY STAGE_22.00 (3)

Berbagi Pengalaman, Dengar Cerita, Menulis Sejarah Sendiri

Festival musik, pada nyatanya, tak pernah melulu tentang musiknya yang berdiri sendiri. Tentu, deretan penampil adalah motivasi utama penonton datang ke sebuah festival musik. Tapi pertanyaannya: apa yang akan terjadi setelah musik selesai dimainkan dan lampu sorot telah dimatikan?

Before I sink, Into the big sleep, I want to hear, I want to hear, The scream of the butterfly

Di sini, Cherrypop memberi arti penting aktivasi dalam sebuah festival musik. Semacam pengejawantahan –maafkan istilah yang segenerasi dengan swasembada– dari the scream of the butterfly yang menggema sebelum tirai pertunjukan terbuka dan tertutup. Sebelum pesta diadakan di Asram Edupark, anggota tim Cherrypop berkeliling di tujuh kota.

Ini mungkin biasa, jika tak melihat list kota tur. Tujuan mereka seringkali dilewati acara serupa, semisal Klaten maupun Ambarawa. Yang istimewa adalah gerakan diseminasi pengetahuan dan pengalaman lewat Rekam Skena. Tanpa semangat menggurui, tim Cherrypop dan fasilitator, berkeliling, mengajak para komunitas di berbagai kota untuk membuat film dokumenter tentang kancah musik di kota masing-masing.

Semacam gerakan untuk menulis sejarah mereka sendiri. Di sini peran fasilitator untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan pada komunitas lokal, mendengar cerita mereka agar tak terjerumus dalam lubang kacamata kuda, sekaligus membebaskan para peserta menggali cerita mereka sendiri Tahun ini Rekam Skena menyambangi Banjarnegara, Purwokerto, Purbalingga, dan Cilacap, yang keempatnya masuk dalam wilayah Karesidenan Banyumasan.

Cherrypop menggandeng komunitas lokal, yaitu Hellofriends (Purbalingga), Kolektif Pancaroba (Banjarnegara), Kolektif Barokah (Cilacap), dan Heartcorner (Purwokerto). Hasilnya adalah film-film dokumenter yang begitu kuat menguarkan semangat lokalitas. Tidak Ada Party di Kabupaten Ini dari Kolektif Pancaroba, Dayabara dari Hellofriends, Ruang Kami: Soetedja karya Heartcorner Collective, juga Independensi di Tengah Kota Industri buatan Kolektif Barokah menghadirkan cerita yang dekat, tapi masih memberikan ruang besar bagi keingintahuan dan penasaran.

Ini tentu jenis cerita yang mungkin akan terasa “jauh” bagi banyak orang, mengingat kota-kota ini memang nyaris tak punya suara di perbincangan musik kota-kota besar. Film-film ini lantas diputar di area misbar Cherrypop dan berhasil membuat banyak penonton anteng menyimak. Tak sedikit pula yang terpukau, tak percaya bahwa pembuat empat film ini sama sekali tak punya pengalaman sebelumnya. “Saking terpukaunya, aku sampai melewatkan band-band yang sebenarnya sejak awal mau kutonton, dan lebih milih nonton film,” kata Wiwid Coreng (43), salah seorang penonton yang datang dari Jember.

Semangat “tulis sejarah kalian sendiri” juga ditularkan ke program baru Cherrypop tahun ini: Pena Skena. Dibandingkan Rekam Skena yang berbasis audiovisual, Pena Skena bisa dibilang lebih konvensional: jurnalisme musik berbasis teks. Tujuan jangka panjangnya sama, para peserta program ini bisa menulis kancah musik mereka sendiri. Yang mengejutkan, bahkan dari sudut pandang panitia, peminatnya banyak.

Ada lebih dari 40 pendaftar dari berbagai kota. Sebagian besar memang masih berpusat di Jawa, meski ada satu yang berasal dari Bali. Namun peserta dari kota-kota seperti Jember, Magelang, Lamongan, juga Kulonprogo, dan juga komposisi lelaki-perempuan yang nyaris seimbang, membuat pengurus program ini yakin bahwa jurnalisme musik berbasis teks belum layak masuk museum. Ada 15 orang peserta yang terpilih, dan mereka akan dapat akses liputan, sekaligus diberi akses backstage untuk wawancara musisi dan seniman yang terlibat dalam Cherrypop.

Menariknya lagi, mereka tak hanya fokus ke band atau musik. Ada yang ingin menulis tentang merchandise dan koleksi fisik, ada yang berencana mengisahkan tentang Rekam Skena dan kolektifnya, ada pula yang mau menceritakan tentang kiprah perempuan dalam kultur musik independen. Semua dari mereka tahu ingin menulis apa dan mewawancara siapa. Melihat gegap gempita gerakan ini, saya jadi terngiang kata-kata Farid Stevy di atas panggung ketika Jenny tengah membakar massa setelah menyanyikan “Resistance is Futile”.

Ia memberikan semangat bagi mereka yang sedang berjuang di jalan mereka sendiri, agar tak menjalani hidup yang layak mati muda. “Untuk semua yang sedang memulai, apapun itu!” Gerakan dokumentasi dan pengarsipan yang bersifat lokal, juga gerakan berbagi pengetahuan dan pengalaman ini adalah tonggak penting bagi kultur musik Indonesia.

Rekam Skena dan Pena Skena, bahu membahu dengan berbagai gerakan pengarsipan musik yang sudah dimulai duluan oleh berbagai kolektif lain, mulai dari Irama Nusantara sampai Wasted Rocker. Dalam konteks Cherrypop, dua program mereka memang bertujuan jangka panjang, tak akan terlihat dalam satudua bulan mendatang. Tapi benih telah ditanam, pupuk telah disebar, air telah disiram. Cherrypop sedang memulai sesuatu, dan mereka belum akan berhenti. (*)

Ini merupakan kutipan esai panjang yang ditulis oleh Nuran Wibisono dengan judul “Keriangan & Histeria di Antara Bleduk: Kesaksian Cherrypop 2023 Baca selengkapnya di Tirto.id

Scroll to Top